Batman Begins - Help Select
Tampilkan postingan dengan label PONTIANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PONTIANAK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2014

MUSEUM KALIMANTAN BARAT



Museum 
Kalimantan Barat – Pontianak
Museum Kalimantan Barat – dikenal juga dengan nama Museum Negeri Pontianak karena berlokasi di Kota Pontianak sebagai ibukota dari Kalimantan Barat. Beragam koleksi seputar Kalimantan Barat dari beberapa masa, tersusun dengan baik di museum ini, apa lagi Museum Negeri Pontianak ini menjadi salah satu dari 5 museum terbaik Se-Indonesia.
Lokasi dan Akomodasi
Museum Negeri Pontianak, berlokasi di Jalan Jendral A. Yani, Pontianak. Anda bisa menggunakan beberapa opsi alat transportasi, baik kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum.
Untuk kendaraan pribadi jika dari pusat kota Pontianak, berjalanlah ke arah barat menuju Jalan Merdeka, dari sini belok kiri lalu ke kanan selama melewati Jalan Kiyai Haji Wahid Hasyim. Ikuti jalan lurus selama melewati Jalan Ahmad Dahlan dan Jalan Jendral Ahmad Yani, museum ini ada di sebelah kanan, maka carilah tempat untuk berputar lalu anda akan sampai di Museum Negeri Pontianak in
Lalu, bagaimana jika anda tidak bisa menggunakan kendaraan pribadi? Jangan khawatir, anda bisa menggunakan angkutan kota (angkot) yang berwarna merah muda dengan jurusan Ahmad Yani. Cukup membayar Rp 2.500,- dan anda akan sampai ke museum ini. Untuk angkutan umum lainnya, anda bisa menggunakan taksi ataupun ojek, sebut saja ke museum negeri. Jika anda merasa lapar, di dalam halaman museum ini anda bisa menemukan sebuah rumah makan. Jadi jangan khawatir wisata sejarah anda terganggu dengan perut yang lapar.
Wisata
Sesuai namanya, museum ini menyimpan berbagai benda-benda bernilai historis yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Museum ini dibangun pada tahun 1975 dan berdiri di atas tanah seluas ± 3905 meter persegi, sedangkan luas lahan keseluruhan ± 28.167 meter persegi. Tetapi gedung ini baru difungsikan sebagai museum pada tanggal 4 Oktober 1983 dan baru diresmikan pada tanggal 2 April 1988 setelah dilakukannya penyempurnaan pada bangunan yang berarsitektur perpaduan antara gaya modern dan tradisional ini.
Jika anda ingin mengunjungi museum ini, datanglah pada hari selasa-kamis dari jam 08:00-16:00 atau pada hari jum’at-minggu dari jam 08:00-15:00. Untuk hari senin dan hari libur nasional lainnya, museum tidak beroperasi.

KERATON KESULTANAN PONTIANAK



Berkunjung ke Istana Kadariyah pada sebelah petang. Istana ini merupakan peninggalankesultanan Pontianak yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada 14 Rejab 1185 H bersamaan 23 Oktober 1771M dan terletak 4 km dari pusat kota dan terletak di Kampong Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Istana ini masih menyimpan berbagai macam benda peninggalan seperti Singahsana, Kaca Pecah Seribu, Al-Quran tulisan tangan dan salasilah keturunan Sultan Pontianak dari sultan pertama, Sultan Sharif Abddurahman Alkadrie hingga kepada sultan kelapan, Sultan Syarif Hamid Alkadrie yang memerintah pada tahun 1945.
Pada bagian depan, tengah,  dan kiri depan istana pengunjug dapat melihat meriam kuno buatan Perancis dan Portugis. Dari sini, pegunjung juga dapat melihat anjungan, sebuah ruangan yang menjorok ke depan yang dulunya digunakan Sultan sebagai tempat peristirahatan atau untuk sekedar menikmati keindahan pemandangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak.
Masih di ruangan ini, pengunjung juga dapat melihat  genta,  sebuah alat yang dulunya dipakai untuk penanda adanya marabahaya. Pada aula utama keraton ini juga terdapat cermin antik dari Perancis yang oleh masyarakat setempat disebut “kaca seribu”.Keraton Kadriah juga masih memiliki koleksi benda- benda bersejarah yang cukup lengkap seperti beragam perhiasan yang digunakan secara turun temurun, benda-benda kuno, barang pecah belah, foto keluarga Sultan dan arca- arca.
Kata Pontianak sendiri berasal dari nama hantu wanita dalam bahasa Melayu, yang di Jawa dikenal dengan Kuntilanak. Konon ketika tengah menyusuri sungai kapuas untuk membuka kerajaan baru, di suatu tempat yang kini bernama Batulayang, rombongan kapal kakap Syarif Abdurrahman Alkadrie diganggu hantu-hantu wanita tersebut. Sultan pun menghentikan rombongan dan memutuskan untuk bermalam di tempat itu.
Terlepas dari bagaimanapun kondisi fisik peninggalan bersejarah tersebut saat ini, berdiri kembalinya kesultanan Kadriah menyemburatkan harapan baru hati umat Islam Pontianak. Gerbong peradaban yang didirikan Syarif Abdurrahman itu akan kembali berderak, menyongsong terbitnya fajar baru kejayaan Islam, yang berbasis visi awal kesultanan Kadriah, yakni “tahta untuk dakwah.”

BUNDARAN DIGULIS PONTIANAK



Monumen yang diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Soedjiman pada 10 November 1987 ini pada awalnya berbentuk sebelas tonggak menyerupai bambu runcing yang berwarna kuning polos. Pada tahun 1995, monumen ini dicat ulang dengan warna merah-putih. Penggunaan warna merah-putih ini menjadikan sebagian warga menganggap monumen ini lebih mirip lipstik daripada bambu runcing. Kemudian, pada tahun 2006 dilakukan renovasi pada monumen ini sehingga berbentuk lebih mirip bambu runcing seperti penampakan saat ini.
Monumen ini didirikan sebagai peringatan atas perjuangan sebelas tokoh Sarekat Islam di Kalimantan Barat, yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Barat karena khawatir pergerakan mereka akan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan. Tiga dari sebelas tokoh tersebut meninggal pada saat pembuangan di Boven Digoel dan lima di antaranya wafat dalam Peristiwa Mandor. Nama-nama kesebelas tokoh tersebut kini diabadikan juga sebagai nama jalan di Kota Pontianak. Kesebelas pejuang itu antara lain:
  • Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit dan dimakamkan di makam keluarga;
  • Achmad Su'ud bin Bilal Achmad, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Gusti Djohan Idrus, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel;
  • Gusti Hamzah, asal Ketapang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Gusti Moehammad Situt Machmud, asal gabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Gusti Soeloeng Lelanang, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau.
  • Haji Rais bin H. Abdurahman, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Moehammad Hambal alias Bung Tambal, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel;
  • Moehammad Sohor, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel; dan
  • Ya' Moehammad Sabran, asal Ngabang, meninggal karena sakit.

RUMAH ADAT MELAYU



Rumah Adat Melayu Kalimantan Barat (Kalbar) ini terletak Komplek Perkampungan Budaya, Jalan Sutan Syahrir Kota Pontianak. Secara historis, pembangunan Rumah Adat Melayu ini dimulai dengan penancapan tiang pertama pada tanggal 17 Mei 2003 hingga selesai dibangun pada tahun 2005. Selanjutnya, pada tanggal 9 November 2005 Rumah Adat Melayu Kalbar diresmikan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Sejak diresmikan, bangunan berdiri diatas lahan seluas 1,4 Hektar ini menjadi pusat/tempat diselenggarakannya berbagai kegiatan, resepsi pernikahan maupun salah satu destinasi kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Hakikat rumah/ruang balai adalah tempat melakukan kegiatan bermasyarakat dan kegiatan sosial, termasuk tempat mengadakan musyawarah dan sebagainya.
Bangunan Rumah Adat Melayu ini berdiri diatas lahan seluas 1,4 hektar. Bangunan ini terdiri dari Balai Kerja yang berfungsi sebagai Seketariat Pertemuan Balai Rakyat, taman bermain, kios penjualan, Balai Pustaka yang berfungsi sebagai tempat kajian budaya dan perpustakaan. Balai Budaya yaitu ruang pertemuan sanggar tertutup dan ruang pengelola, Panggung Terbuka yang berfungsi sebagai ruang persidangan dan gudang, serta Pesanggarahan yang terdiri dari penginapan, pertemuan, klinik kesehatan dan tempat pelatihan.

RUMAH BETANG



Rumah betang mempunyai ciri-ciri yaitu; bentuk Panggung, memanjang. pada suku Dayak tertentu, pembuatan rumah panjang bagian hulunya haruslah searah dengan Matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah Matahari terbenam, sebagai simbol kerja-keras untuk bertahan hidup mulai dari Matahari tumbuh dan pulang ke rumah di Matahari padam.
Di Kalimantan Barat mulai dari Kota Pontianak dapat kita jumpai rumah adat Dayak. Salah satunya berada di jalan Letjen Sutoyo. Walaupun hanya sebuah Imitasi, tetapi rumah Betang ini, cukup aktif dalam menampung aktivitas kaum muda dan sanggar seni Dayak. kemudian jika kita ke Arah Kabupaten landak, maka kita akan menjumpai sebuah Rumah Betang Dayak di Kampung Sahapm Kec. Pahauman. Kemudian jika kita ke Kabupaten Sanggau, maka kita dapat melihat Rumah Betang di kampung Kopar Kecamatan Parindu, Kemudian selanjutnya jika kita ke kabupaten Sekadau, maka kita dapat melihat rumah betang di Kampung Sungai Antu Hulu, Kecamatan Belitang Hulu, Kemudian di kabupaten Sintang kita Dapat melihat rumah Betang di Desa Ensaid panjang, Kecamatan Kelam, Kemudian Di Kapuas Hulu, Kita juga dapat melihat Masih banyak rumah-rumah betang Dayak yang masih lestari.

RUMAH RADAKNG



Rumah adat Dayak terbesar di Kalimantan ‘Radakng’ diresmikan Gubernur Kalbar Drs. Cornelis, MH. Dihadiri ratusan undangan, baik lokal hingga luar negeri, rumah adat yang memiliki panjang 138 meter dan tinggi 7 meter itu akan menjadi pusat budaya masyarakat, terutama bagi suku adat Dayak Kalbar.Radakng tidak saja menjadi pusat pengembangan budaya tapi menjadi pusat masyarakat dalam menyalurkan aspirasi seni dan budaya kreatif.Rumah adat Dayak Radakng yang baru saja diresmikan oleh pemerintah daerah setempat pada Selasa (2/7) itu, terletak di Komplek Perkampungan Budaya Jl Sutan Syahrir, Kota Baru, Pontianak, Kalbar.
Rumah adat ini memiliki panjang 138 meter, dengan lebar 5 meter, dan tinggi 7 meter.

Jumat, 07 November 2014

TUGU KHATULISTIWA




Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasi Tugu Khatulistiwa berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah. Tugu Khatulistiwa ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak.
Sejarah mengenai pembangunan tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung. Bangunan Tugu Khatulistiwa terdiri dari 4 buah tonggak kayu dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah.
Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan Tugu Khatulistiwa akan "menghilang" beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain disekitar tugu.
Peristiwa titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan.

KOREM

TAMAN ALUN-ALUN KAPUAS



Taman alun-alun kapuas adalah sebuah tempat nyantai disore hari yang cukup nyaman dan aman dikota pontianak. Letaknya yang strategis ditengah kota dan mudah dijangkau dari mana-mana menjadikan tempat ini sebagai tempat santai favorit bagi warga kota pontianak yang jenuh dengan kepenatan setelah beraktifitas sehari penuh. Dilengkapi dua air mancur yang indah, miniatur tugu khatulistiwa, dan juga pengunjung yang ingin merasakan sensasi mengarungi sungai kapuas dimalam hari dapat menaiki sejenis motor air yang didalamnya juga berfungsi sebagai cafe terapung maka akan jadi pengalaman yang cukup menyenangkan. Tak terasa waktu berlalu saat menikmati angin sepoi-sepoi dalam perjalanan menyusuri sungai kapuas, melewati jembatan kapuas I dan akhirnya kembali ke taman alun-alun yang begitu ramai dimalam hari oleh pengunjung dan pedagang menjajakan dagangannya. Ingin merasakan keunikan kota pontianak dengan wisata sungai dimalam hari, kunjungi taman alun-alun kapuas.